Ketika Berita Buruk Tak Ada Habisnya: Peran Sensory Healing untuk Kesehatan Mental
01 April 2026
Paparan Negatif yang Melelahkan
Di era digital, individu semakin mudah terpapar berita buruk secara terus-menerus. Fenomena ini dapat memicu negativity bias, yaitu kecenderungan manusia untuk lebih fokus pada informasi negatif dibandingkan positif. Menurut Baumeiste, dkk (2001), pengalaman negatif memiliki dampak psikologis yang lebih kuat dan bertahan lebih lama dibandingkan pengalaman positif. Akibatnya, paparan berita buruk yang berulang dapat meningkatkan kecemasan, stres, dan kelelahan emosional.
Di Indonesia, kondisi ini juga diperkuat oleh meningkatnya konsumsi media digital. Ketika individu tidak memiliki batasan dalam mengakses informasi, pikiran menjadi sulit beristirahat dan terus berada dalam mode waspada.
Stres dan Respons Tubuh
Dari sudut pandang psikofisiologi, paparan stres yang terus-menerus dapat mengaktifkan respons fight-or-flight. Teori General Adaptation Syndrome dari Selye (1956) menjelaskan bahwa tubuh akan melalui tiga tahap: alarm, resistance, dan exhaustion. Jika paparan stres tidak berhenti, individu dapat mengalami kelelahan kronis yang berdampak pada kesehatan mental maupun fisik.
Penelitian oleh Rahmawati dan Lestari (2021) di Indonesia menunjukkan bahwa paparan informasi negatif yang berlebihan berkorelasi dengan meningkatnya tingkat stres dan gangguan emosional pada individu dewasa muda. Hal ini menunjukkan pentingnya strategi regulasi diri dalam menghadapi arus informasi.
Sensory Healing sebagai Alternatif Regulasi
Untuk mengatasi dampak tersebut, sensory healing hadir sebagai pendekatan yang menekankan pemulihan melalui pancaindra. Pendekatan ini sejalan dengan teori self-regulation dari Roy Baumeister (1997), yang menyatakan bahwa individu dapat mengelola emosi dan perilaku melalui mekanisme pengendalian diri, termasuk dengan mengubah fokus perhatian.
Dengan memberikan stimulus sensorik yang menenangkan seperti sentuhan, suara, atau aroma tubuh dapat keluar dari kondisi stres dan beralih ke keadaan lebih rileks. Ketika tubuh merasa aman, pikiran pun menjadi lebih stabil.
Praktik Sederhana untuk Menenangkan Diri
Beberapa teknik sensory healing yang dapat diterapkan antara lain:
-
Aromaterapi: menggunakan minyak esensial untuk menciptakan rasa nyaman
-
Relaksasi sentuhan: memijat ringan tangan atau menggunakan benda lembut
-
Paparan suara alami: seperti hujan atau angin
-
Istirahat dari layar: memberi jeda dari konsumsi berita
-
Gerakan sadar: seperti yoga ringan atau stretching
Kegiatan ini membantu menyeimbangkan kembali sistem saraf yang terganggu akibat paparan informasi negatif.
Kesimpulan
Paparan berita buruk yang terus-menerus dapat memperkuat negativity bias dan memicu stres berkepanjangan. Berdasarkan teori negativity bias (Baumeister et al., 2001), General Adaptation Syndrome (Selye, 1956), dan self-regulation (Baumeister, 1997), penting bagi individu untuk memiliki strategi pemulihan yang efektif. Sensory healing menjadi salah satu cara sederhana untuk menjaga kesehatan mental dengan mengembalikan fokus pada pengalaman tubuh. Di tengah derasnya informasi negatif, ketenangan bisa dimulai dari hal paling sederhana: merasakan.
Toko psikologi terpercaya yang menyediakan jurnal psikologi, alat tes psikologi, dan berbagai produk mental health berkualitas untuk kebutuhan pribadi maupun profesional - www.tokopsikologi.com -
Daftar Referensi:
Baumeister, R. F. (1997). Ego depletion and self-regulation failure: A resource model of self-control. Psychological Inquiry, 16(2), 185–205.
Baumeister, R. F., Bratslavsky, E., Finkenauer, C., & Vohs, K. D. (2001). Bad is stronger than good. Review of General Psychology, 5(4), 323–370. https://doi.org/10.1037/1089-2680.5.4.323
Rahmawati, D., & Lestari, S. (2021). Paparan media digital dan tingkat stres pada dewasa muda. Jurnal Psikologi Indonesia, 10(2), 120–128.
Selye, H. (1956). The stress of life. New York: McGraw-Hill.