Scroll Terus, Cemas Terus: Saatnya Beralih ke Sensory Healing | Toko Psikologi

Scroll Terus, Cemas Terus: Saatnya Beralih ke Sensory Healing

30 March 2026

Lingkaran Scroll dan Kecemasan

Di tengah arus informasi digital, banyak individu terjebak dalam kebiasaan scrolling tanpa henti yang sering kali diikuti oleh meningkatnya kecemasan. Fenomena ini tidak lepas dari hubungan antara penggunaan media sosial dan kondisi emosional. Penelitian oleh Azka, Firdaus, & Kurniadewi (2018) menunjukkan bahwa kecemasan sosial memiliki pengaruh signifikan terhadap ketergantungan media sosial pada mahasiswa.

Selain itu, studi lain menemukan bahwa semakin tinggi intensitas penggunaan media sosial, semakin tinggi pula tingkat kecemasan yang dialami remaja (Kansil, Solang, & Lovihan, 2024).
Hal ini menunjukkan bahwa doomscrolling bukan sekadar kebiasaan, tetapi dapat memperkuat siklus kecemasan yang sulit dihentikan.

 

Otak yang Terlalu Terpapar

Dari sudut pandang psikologi perkembangan, paparan informasi yang berlebihan dapat mengganggu regulasi emosi. Menurut Simanjuntak dkk. (2024), penggunaan media sosial berkaitan dengan fluktuasi emosi dan peningkatan kecemasan pada individu, terutama remaja.

Secara teoritis, kondisi ini dapat dijelaskan melalui konsep overstimulation, di mana otak menerima terlalu banyak rangsangan sehingga sulit memprosesnya secara efektif. Akibatnya, individu merasa lelah, mudah gelisah, dan kehilangan rasa tenang.

 

Sensory Healing sebagai Penyeimbang

Untuk memutus siklus tersebut, pendekatan sensory healing menjadi alternatif yang relevan. Pendekatan ini berakar pada teori sensory integration dari Ayres (1972), yang menekankan bahwa keseimbangan emosi dapat dicapai melalui pengolahan rangsangan sensorik yang tepat.

Selain itu, konsep regulasi emosi dalam Polyvagal Theory oleh Porges (2011) menjelaskan bahwa sistem saraf manusia merespons rasa aman melalui pengalaman tubuh. Ketika tubuh menerima sinyal yang menenangkan seperti sentuhan lembut atau suara yang stabil sistem saraf akan beralih dari mode “siaga” ke mode “tenang”.

 

Cara Sederhana Mengurangi Cemas

Beberapa praktik sensory healing yang bisa dilakukan untuk mengurangi dampak doomscrolling:

  • Grounding fisik: menyentuh permukaan dingin atau hangat untuk mengembalikan fokus

  • Suara menenangkan: mendengarkan white noise atau suara alam

  • Aromaterapi: menggunakan aroma seperti lavender atau eucalyptus

  • Istirahat visual: menjauh dari layar dan melihat objek alami

  • Gerakan ringan: seperti berjalan atau stretching

Pendekatan ini membantu tubuh keluar dari kondisi overstimulated menuju keadaan yang lebih stabil.

 

Kesimpulan

Doomscrolling dapat memperkuat kecemasan karena paparan informasi negatif yang terus-menerus dan berlebihan. Didukung oleh berbagai penelitian tentang hubungan media sosial dan kecemasan, serta teori seperti sensory integration (Ayres, 1972) dan Polyvagal Theory (Porges, 2011), sensory healing menjadi cara sederhana namun efektif untuk memulihkan keseimbangan emosi. Dengan kembali pada pengalaman sensorik, kita bisa perlahan keluar dari siklus “scroll terus, cemas terus” menuju kondisi yang lebih tenang dan terkendali.

Toko psikologi terpercaya yang menyediakan jurnal psikologi, alat tes psikologi, dan berbagai produk mental health berkualitas untuk kebutuhan pribadi maupun profesional www.tokopsikologi.com 

 

 

Daftar Referensi:

Azka, F., Firdaus, D. F., & Kurniadewi, E. (2018). Kecemasan sosial dan ketergantungan media sosial pada mahasiswa. Psympathic: Jurnal Ilmiah Psikologi, 5(2), 201–210. https://doi.org/10.15575/psy.v5i2.3315

Kansil, A., Solang, D. J., & Lovihan, M. A. K. (2024). Intensitas penggunaan media sosial terhadap kecemasan sosial pada remaja. IDEA: Jurnal Psikologi, 9(2). https://doi.org/10.32492/idea.v9i2.92012

Porges, S. W. (2011). The polyvagal theory: Neurophysiological foundations of emotions, attachment, communication, and self-regulation. New York: W. W. Norton & Company.

Simanjuntak, D. V., Sitompul, D. A., Nadapdap, I., & Raja, S. L. (2024). Psikologi perkembangan pada remaja terhadap dampak penggunaan media sosial pada perkembangan emosi dan kecemasan pada remaja. Jurnal Parenting dan Anak, 1(3), 1–9.

Ayres, A. J. (1972). Sensory integration and learning disorders. Los Angeles: Western Psychological Services.