Tenang di Tengah Scroll: Cara Sensory Healing Menghentikan Doomscrolling | Toko Psikologi

Tenang di Tengah Scroll: Cara Sensory Healing Menghentikan Doomscrolling

24 March 2026

Ketika Scroll Tak Lagi Menenangkan

Di era digital, kebiasaan doomscrolling menggulir informasi negatif secara terus-menerus semakin umum terjadi. Penelitian oleh Pandya dkk. (2024) menunjukkan bahwa intensitas doomscrolling berkaitan dengan meningkatnya kecemasan pada mahasiswa . Hal ini sejalan dengan temuan Firmansyah & Ardelia (2026) yang menyatakan bahwa konsumsi berita negatif berlebih dapat memicu gangguan emosional, terutama pada emerging adults.

Dalam perspektif psikologi, perilaku ini dapat dijelaskan melalui Social Cognitive Theory oleh Albert Bandura (1991), yang menekankan bahwa perilaku dipengaruhi oleh interaksi antara individu, lingkungan, dan pola kebiasaan. Doomscrolling menjadi siklus yang diperkuat oleh rasa ingin tahu sekaligus kecemasan.

 

Sensory Healing: Kembali ke Tubuh, Bukan Layar

Sensory healing merupakan pendekatan yang mengaktifkan kembali kesadaran inderawi untuk menenangkan sistem saraf. Dalam kajian self-healing oleh Hariry dkk. (2023), teknik seperti mindfulness, relaksasi, dan fokus pada pengalaman indera terbukti membantu menurunkan stres .

Dari sudut pandang neuropsikologi, pendekatan ini juga berkaitan dengan konsep sensory regulation, yaitu kemampuan otak mengatur respons terhadap stimulus. Aktivitas seperti mendengarkan suara alam, menyentuh tekstur tertentu, atau mengatur pencahayaan membantu mengalihkan perhatian dari stimulus digital yang berlebihan.

 

Mengapa Sensory Healing Efektif?

Menurut teori regulasi diri Bandura (1991), individu mampu mengubah perilaku dengan mengintervensi lingkungan dan respons internalnya. Sensory healing bekerja dengan “memutus rantai” doomscrolling melalui pengalaman nyata yang lebih menenangkan dibandingkan stimulus digital.

Selain itu, penelitian dari Cahya & Khoirunnisa (2026) menunjukkan bahwa paparan media digital yang terus-menerus membentuk persepsi dan emosi individu melalui proses sosial dan kognitif . Dengan mengganti paparan tersebut menjadi pengalaman sensorik yang positif, individu dapat mengurangi beban kognitif dan emosional.

 

Cara Praktis Menerapkan Sensory Healing

Beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan:

  • Mengatur screen break dan menggantinya dengan aktivitas seperti menyeduh teh hangat

  • Mendengarkan musik lembut atau suara alam

  • Menggunakan aromaterapi untuk relaksasi

  • Melakukan teknik pernapasan atau mindfulness

Aktivitas ini membantu tubuh “kembali hadir”, sehingga perhatian tidak lagi terjebak dalam arus informasi negatif.

 

Kesimpulan

Doomscrolling bukan sekadar kebiasaan digital, tetapi juga fenomena psikologis yang berkaitan dengan regulasi emosi dan perhatian. Sensory healing menawarkan pendekatan sederhana namun efektif dengan mengaktifkan kembali pengalaman inderawi sebagai penyeimbang stimulus digital. Dengan memahami mekanisme psikologis di baliknya dan menerapkan teknik yang tepat, individu dapat menemukan ketenangan bahkan di tengah derasnya arus informasi.

Toko psikologi terpercaya yang menyediakan jurnal psikologi, alat tes psikologi, dan berbagai
produk mental health berkualitas untuk kebutuhan pribadi maupun profesional - www.tokopsikologi.com -

 

 

 

Daftar Pustaka:

Cahya, R. D. W., & Khoirunnisa, R. N. (2026). Doomscrolling dalam kehidupan akademik mahasiswa: Studi fenomenologi.  Jurnal Penelitian Psikologi, 13(1), 402–413. https://doi.org/10.26740/cjpp.v13n01.p402-413

Firmansyah, F. A., & Ardelia, V. (2026). Pengaruh doomscrolling terhadap kecemasan pada emerging adult. Jurnal Penelitian Psikologi, 13(1), 1–11.

Hariry, S., Pahlevi, M. N., Sentosa, A. R., & Nurjannah. (2023). Self-healing therapy in overcoming stress perspective of Islamic psychology. Jurnal Pendidikan dan Konseling (JPDK), 5(1), 5355–5361. https://doi.org/10.31004/jpdk.v5i1.11846

Pandya, J. K., Lutfiana, S. A., Putri, A. S., Valentiya, C. W., Alisa, M., Risti, N. A., Putri, N. E., & Sani, E. N. (2024). Studi kasus dampak doomscrolling terhadap kecemasan mental mahasiswa Gen Z. Journal of Family Life Education, 4(2).