Saat Jempol Tak Bisa Berhenti: Menemukan Ketenangan Lewat Sensory Healing
26 March 2026
Terjebak dalam Guliran Tanpa Akhir
Pernah merasa jempol terus bergerak tanpa sadar saat membuka media sosial? Fenomena ini dikenal sebagai doomscrolling, yaitu kebiasaan menggulir konten negatif secara terus-menerus. Penelitian oleh Sa’idah dan Aryani (2025) menunjukkan bahwa 82,3% remaja Indonesia melakukan doomscrolling beberapa kali dalam seminggu, dengan dampak signifikan pada kecemasan, gangguan tidur, dan penurunan konsentrasi .
Dalam perspektif Habit Theory oleh Wendy Wood (2017), perilaku berulang seperti doomscrolling terbentuk dari kebiasaan otomatis yang dipicu oleh lingkungan dan isyarat tertentu. Artinya, membuka ponsel sedikit saja bisa langsung “menarik” kita ke siklus scroll tanpa sadar.
Sensory Healing: Mengembalikan Kendali ke Tubuh
Sensory healing adalah pendekatan yang mengajak individu kembali merasakan pengalaman inderawi seperti suara, sentuhan, atau aroma untuk menenangkan pikiran. Pendekatan ini selaras dengan Mindfulness-Based Stress Reduction (MBSR) oleh Jon Kabat-Zinn (1990), yang menekankan kesadaran penuh pada pengalaman saat ini untuk mengurangi stres.
Selain itu, penelitian terkait pengalaman sensorik seperti ASMR (Peng et al., 2024) menunjukkan bahwa stimulasi sensorik dapat meningkatkan relaksasi dan kenyamanan emosional. Sensasi sederhana seperti suara hujan atau sentuhan lembut mampu membantu sistem saraf menjadi lebih tenang.
Mengapa Jempol Sulit Berhenti?
Menurut Cognitive Load Theory oleh Sweller (1988), otak memiliki kapasitas terbatas dalam memproses informasi. Doomscrolling membanjiri otak dengan informasi negatif, sehingga memicu kelelahan kognitif dan emosi. Penelitian oleh Ibad dkk. (2025) juga menegaskan bahwa paparan informasi negatif di media sosial berpengaruh signifikan terhadap penurunan kesejahteraan mental .
Ketika otak lelah, justru kita cenderung terus scrolling karena mencari “penyelesaian” informasi, padahal yang terjadi adalah siklus tanpa akhir.
Praktik Sederhana Sensory Healing
Untuk menghentikan kebiasaan ini, sensory healing bisa diterapkan secara praktis:
-
Alihkan fokus ke indera: dengarkan musik tenang atau suara alam
-
Gunakan sentuhan nyata: memegang benda hangat seperti cangkir teh
-
Atur lingkungan: redupkan cahaya dan kurangi distraksi visual
-
Latih napas sadar: tarik napas perlahan dan rasakan ritmenya
Teknik ini membantu memutus autopilot doomscrolling dan mengembalikan kesadaran ke tubuh.
Kesimpulan
Doomscrolling adalah kebiasaan otomatis yang dipengaruhi oleh lingkungan digital dan keterbatasan kognitif manusia. Sensory healing hadir sebagai cara sederhana namun efektif untuk mengembalikan kontrol dengan mengaktifkan pengalaman inderawi. Dengan memahami mekanisme psikologisnya dan melatih kesadaran tubuh, kita dapat menghentikan jempol yang terus bergerak dan mulai menemukan ketenangan di tengah dunia yang serba cepat.
Toko psikologi terpercaya yang menyediakan jurnal psikologi, alat tes psikologi, dan berbagai produk mental health berkualitas untuk kebutuhan pribadi maupun profesional - www.tokopsikologi.com -
Daftar Pustaka:
Ibad, M. C., Aisha, D., & Rahman, P. R. U. (2025). Ignorance is bliss: Doomscrolling terhadap mental well-being pengguna Instagram. Psychopedia: Jurnal Psikologi Universitas Buana Perjuangan Karawang, 10(2), 46–55. https://doi.org/10.36805/xqxm3z34
Peng, D., Person, T., Shen, X., Pai, Y. S., Barbareschi, G., Li, S., & Minamizawa, K. (2024). Impact of vibrotactile triggers on mental well-being through ASMR experience in VR. arXiv. https://arxiv.org/abs/2404.12567
Sa’idah, I., & Aryani, A. (2025). Doomscrolling behavior among Indonesian adolescents: Psychological correlates and digital media usage patterns. Journal of Counseling & Psychotherapy Research, 3(1). https://doi.org/10.111322/pf7tdb83
Sweller, J. (1988). Cognitive load during problem solving: Effects on learning. Cognitive Science, 12(2), 257–285.
Wood, W. (2017). Habit in personality and social psychology. Personality and Social Psychology Review, 21(4), 389–403.