Doomscrolling Bikin Lelah? Ini Cara Menenangkan Diri dengan Sensory Healing | Toko Psikologi

Doomscrolling Bikin Lelah? Ini Cara Menenangkan Diri dengan Sensory Healing

26 March 2026

Terjebak Scroll Tanpa Henti

Doomscrolling atau kebiasaan terus-menerus mengonsumsi berita negatif ering kali membuat individu merasa lelah secara mental tanpa disadari. Dalam perspektif psikologi, kondisi ini berkaitan dengan respons stres. Menurut teori stres transaksional dari Lazarus dan Folkman (1984), stres muncul ketika individu menilai situasi sebagai ancaman dan merasa tidak memiliki cukup sumber daya untuk menghadapinya. Ketika seseorang terus menerima informasi negatif, otak akan terus berada dalam mode “siaga”, yang akhirnya memicu kelelahan emosional.

 

Sensory Healing: Kembali ke Tubuh

Salah satu pendekatan yang mulai banyak digunakan untuk mengatasi kelelahan mental adalah sensory healing, yang berakar pada teori sensory integration dari Ayres (1972). Teori ini menjelaskan bahwa otak memproses informasi dari pancaindra untuk menghasilkan respons yang adaptif. Ketika sistem sensorik diberi stimulasi yang tepat seperti sentuhan lembut, suara menenangkan, atau aroma tertentu tubuh dapat kembali ke kondisi lebih stabil.

Penelitian di Indonesia juga menunjukkan bahwa terapi sensori integrasi dapat membantu mengatur respons perilaku dan emosi, karena berkaitan dengan kemampuan otak dalam memodulasi rangsangan sensorik.

 

Mengapa Sensorik Bisa Menenangkan?

Secara neuropsikologis, stimulasi sensorik yang menenangkan dapat membantu menurunkan aktivasi sistem saraf simpatik (respons stres) dan meningkatkan sistem parasimpatik (relaksasi). Pendekatan ini juga sejalan dengan konsep embodiment dalam psikologi modern, yang menekankan bahwa pengalaman tubuh berperan penting dalam regulasi emosi.

Artinya, untuk menenangkan pikiran, kita tidak selalu harus “berpikir lebih positif” kadang cukup dengan memberi tubuh pengalaman yang nyaman.

 

Cara Praktis Sensory Healing untuk Menghentikan Doomscrolling

Beberapa teknik sederhana yang bisa dicoba antara lain:

  • Sentuhan (tactile): memegang benda bertekstur lembut atau menggunakan selimut hangat

  • Pendengaran (auditory): mendengarkan suara alam atau musik pelan

  • Penglihatan (visual): melihat warna-warna lembut atau pemandangan alami

  • Penciuman (olfactory): menggunakan aromaterapi seperti lavender

  • Gerakan tubuh (proprioceptive): stretching ringan atau berjalan santai

Aktivitas ini membantu “mengalihkan” fokus dari layar ke pengalaman tubuh yang nyata.

 

Kesimpulan

Doomscrolling dapat memicu kelelahan mental karena otak terus-menerus memproses informasi yang menegangkan. Melalui pendekatan sensory healing yang berbasis teori sensory integration (Ayres, 1972) dan teori stres (Lazarus & Folkman, 1984), individu dapat menenangkan diri dengan cara yang lebih sederhana dan tubuh-sentris. Mengembalikan perhatian pada pancaindra bukan hanya membantu mengurangi stres, tetapi juga menjadi langkah kecil untuk kembali hadir di momen saat ini.

Tingkatkan kualitas hidup dan kesehatan mentalmu dengan rangkaian produk psikologi dari Toko Psikologi. Kami menyediakan audio mindfulness, media refleksi diri, games psikologi, serta alat bantu berbasis evidence yang membantu mengurangi stres, memperkuat hubungan, dan mengembangkan potensi diri. Mulai perjalanan perubahan positifmu sekarang dengan menjelajahi koleksi lengkap kami di: https://tokopsikologi.com 



Daftar Referensi:

Ayres, A. J. (1972). Sensory Integration and Learning Disorders. Los Angeles: Western Psychological Services.

Lazarus, R. S., & Folkman, S. (1984). Stress, appraisal, and coping. New York: Springer.

Tanawali, N. H., Nur, H., & Zainuddin, K. (2018). Peningkatan kemampuan taktil anak autis melalui terapi sensori integrasi. Jurnal Psikologi TALENTA, 3(2). https://doi.org/10.26858/talenta.v3i2.6528

Yusmanningsih, N. L., & Alpiah, D. N. (2023). Penatalaksanaan metode sensori integrasi melalui pendekatan play therapy untuk membantu mengurangi temper tantrum pada anak dengan autism spectrum disorder. Health and Family Journal, 2(2).

Lumban Gaol, N. T. (2016). Teori stres: Stimulus, respons, dan transaksional. Buletin Psikologi, 24(1).