“Capek Jadi Orang Tua yang Sabar”: Mindful Parenting dalam Situasi Sulit | Toko Psikologi

“Capek Jadi Orang Tua yang Sabar”: Mindful Parenting dalam Situasi Sulit

29 January 2026

“Capek jadi orang tua yang sabar.” Kalimat ini jarang diucapkan dengan lantang. Lebih sering disimpan, dipendam, lalu muncul sebagai rasa bersalah. Seolah-olah lelah adalah tanda kegagalan, dan kesabaran adalah kewajiban yang tidak boleh habis.

Padahal, mengasuh anak di situasi sulit, kurang tidur, tekanan pekerjaan, tuntutan ekonomi, konflik rumah tangga adalah medan yang berat. Bukan karena orang tua kurang cinta, tetapi karena kapasitas emosional manusia memang terbatas.

Mindful parenting tidak meminta orang tua untuk selalu tenang. Ia mengajak orang tua untuk sadar. Sadar akan apa yang sedang dirasakan, apa yang sedang dipicu, dan apa yang sedang dibutuhkan sebelum emosi itu tumpah ke anak.

Dalam psikologi, mindfulness dipahami sebagai kemampuan memberi perhatian pada pengalaman saat ini secara sengaja dan tanpa menghakimi. Ketika diterapkan dalam pengasuhan, mindfulness membantu orang tua merespons anak dengan lebih sadar, bukan sekadar bereaksi.

Situasi sulit sering kali mempersempit ruang jeda. Anak rewel, pekerjaan menumpuk, tubuh lelah. Dalam kondisi seperti ini, otak cenderung mengambil jalan cepat: marah, membentak, atau menarik diri. Mindful parenting bukan tentang menahan emosi mati-matian, melainkan tentang menciptakan jeda sekecil apa pun sebelum merespons.

Penelitian menunjukkan bahwa orang tua yang mempraktikkan mindful parenting cenderung memiliki regulasi emosi yang lebih baik dan hubungan yang lebih hangat dengan anak. Bukan karena mereka tidak pernah marah, tetapi karena mereka lebih cepat menyadari kemarahan itu.

Mindfulness juga membantu orang tua melepaskan tuntutan perfeksionisme. Menjadi orang tua yang cukup hadir jauh lebih realistis daripada menjadi orang tua yang selalu sabar. Mengakui kelelahan bukan tanda menyerah, melainkan langkah awal untuk merawat diri.

Mindful parenting sering kali hadir dalam bentuk yang sangat sederhana: menarik napas sebelum menjawab, menyadari nada suara yang meninggi, atau berani berkata, “Ibu butuh waktu sebentar untuk menenangkan diri.” Anak tidak membutuhkan orang tua yang sempurna. Ia membutuhkan orang tua yang nyata.

Dan ketika orang tua mampu memperlakukan dirinya sendiri dengan lebih berbelas kasih, ruang empati untuk anak pun ikut melebar. Karena kesabaran yang berkelanjutan tidak lahir dari pemaksaan, melainkan dari kesadaran.

“Capek jadi orang tua yang sabar” bukan tanda kegagalan. Ia adalah sinyal bahwa orang tua juga manusia dan manusia berhak berhenti sejenak, bernapas, lalu melanjutkan dengan cara yang lebih sadar.

Toko psikologi terpercaya yang menyediakan jurnal psikologi, alat tes psikologi, dan berbagai produk mental health berkualitas untuk kebutuhan pribadi maupun profesional - www.tokopsikologi.com -

 

 

Referensi

Bögels, S. M., Lehtonen, A., & Restifo, K. (2010). Mindful Parenting in Mental Health Care. Mindfulness, 1(2), 107–120. https://doi.org/10.1007/s12671-010-0014-5

Duncan, L. G., Coatsworth, J. D., & Greenberg, M. T. (2009). A Model of Mindful Parenting: Implications for Parent–Child Relationships and Prevention Research. Clinical Child and Family Psychology Review, 12(3), 255–270. https://doi.org/10.1007/s10567-009-0046-3

Kabat-Zinn, J. (1994). Wherever you go, there you are: Mindfulness meditation in everyday life. (p. 4). Hyperion.