“Aku Takut Ngomong Kalau di Sini”: Psychological Safety dalam Hubungan Sosial
29 January 2026
“Aku takut ngomong kalau di sini.” Kalimat ini sering tidak diucapkan. Ia hadir sebagai jeda yang terlalu panjang, tawa yang dipaksakan, atau anggukan tanpa suara. Bukan karena tidak punya pendapat, tetapi karena merasa tidak aman untuk mengeluarkannya.
Takut berbicara jarang tentang kurangnya kepercayaan diri semata. Lebih sering, ia tentang konteks. Tentang ruang sosial yang memberi sinyal halus atau terang-terangan bahwa salah bicara akan berujung pada penghakiman, ejekan, atau pengucilan.
Dalam psikologi organisasi, istilah psychological safety merujuk pada keyakinan bahwa seseorang aman untuk mengambil risiko interpersonal: bertanya, berbeda pendapat, mengakui kesalahan, atau mengekspresikan diri tanpa takut dipermalukan atau dihukum. Meski konsep ini banyak dibahas di tempat kerja, esensinya sangat relevan dalam hubungan sosial sehari-hari.
Ketika psychological safety rendah, orang belajar menyaring diri secara berlebihan. Mereka berbicara seperlunya, menyembunyikan ketidaksetujuan, dan memilih diam sebagai strategi bertahan. Diam ini sering disalahartikan sebagai ketidakpedulian, padahal ia adalah bentuk kewaspadaan.
Penelitian menunjukkan bahwa lingkungan dengan psychological safety yang rendah berkaitan dengan minimnya partisipasi, keterbukaan, dan kelekatan emosional. Bukan karena orang tidak punya sesuatu untuk disampaikan, tetapi karena risiko terasa lebih besar daripada manfaatnya.
Menariknya, rasa takut berbicara sering kali bukan tentang satu kejadian besar, melainkan akumulasi respons kecil: komentar yang diremehkan, candaan yang menusuk, atau ekspresi wajah yang menghakimi. Dari sana, tubuh belajar membaca pola dan memilih diam sebelum terluka.
Psychological safety bukan berarti semua orang harus selalu setuju. Justru sebaliknya. Ia adalah kondisi di mana perbedaan tidak mengancam relasi. Di mana konflik bisa dibicarakan tanpa membuat seseorang merasa diserang sebagai pribadi.
Dalam hubungan yang aman secara psikologis, kalimat seperti, “Aku beda pendapat,” atau “Aku ga nyaman dengan itu,” tidak langsung dibalas dengan defensif. Ada ruang untuk mendengar sebelum menilai. Ada jeda sebelum menyimpulkan.
Rasa aman ini tidak dibangun dari satu pihak saja. Ia tumbuh dari pola interaksi yang konsisten: respons yang tidak merendahkan, kesediaan mengakui kesalahan, dan sikap terbuka terhadap perspektif lain. Hal-hal kecil, tapi berdampak besar.
Mungkin, ketika seseorang berkata, “Aku takut ngomong kalau di sini,” pertanyaannya bukan kenapa dia sensitif, tetapi apa yang membuat ruang ini terasa tidak aman. Karena keberanian berbicara tidak selalu soal kekuatan individu sering kali soal kualitas relasi.
Dan hubungan sosial yang sehat bukan yang paling ramai suaranya, tetapi yang cukup aman untuk menampung kejujuran.
Toko psikologi terpercaya yang menyediakan jurnal psikologi, alat tes psikologi, dan berbagai produk mental health berkualitas untuk kebutuhan pribadi maupun profesional - www.tokopsikologi.com -
Referensi
Edmondson, A. (1999). Psychological safety and learning behavior in work teams. Administrative Science Quarterly, 44(2), 350–383. https://doi.org/10.2307/2666999
Edmondson, A. C., & Lei, Z. (2014). Psychological safety: The history, renaissance, and future of an interpersonal construct. Annual Review of Organizational Psychology and Organizational Behavior, 1(1), 23–43. https://doi.org/10.1146/annurev-orgpsych-031413-091305